Friday, February 24, 2017

27th

In special moments, I always eager to write a post as my memorial stone.
One of them is today.

This year I almost forgot my birthday, because of the busy life.
And I'm really grateful for a friend who great in remembering his friends' birthday, who also had been my birthday reminder. 😄

Well...

Today is the first day of my 27th. 
And God again call me to deny myself, to take up my cross and to follow Him.
I really hope that I can be a faithful person.

May my Lord help me to be faithful and to be blessing for others. 

Amen.

Wednesday, January 18, 2017

3rd Year

Besok, 19 Januari 2017, adalah peringatan 3 tahun Papa di Surga.

Rindu. sangat. amat.

Sedih.

Namun, juga bahagia.

Karena ia sudah berbahagia bersama Allah Sumber Sukacita.


Hm...


Just wanna say, "I really miss you, Dad."

. . .

Sunday, December 25, 2016

Thou didst leave Thy throne and Thy Kingly crown

Sebuah lagu yang ditulis oleh Emily E. S. Elliott sekitar 1.5 abad yang lalu, menjadi perenungan bagiku menjelang dan ketika Natal di tahun 2016 ini.

Thou didst leave Thy throne and Thy kingly crown,
When Thou camest to earth for me;
But in Bethlehem's home was there found no room
For Thy holy nativity.
O come to my heart, Lord Jesus,
There is room in my heart for Thee.
 Masuk Hatiku, O Yesus, 'Ku Ada Tempat Bagi-Mu.

Demikian ending dari setiap bait lagu ini (terjemahan dari KPPK).

Seorang Kristen sejak kecil, aktif dalam pelayanan, dan aktif dalam pembinaan. Namun ketika pertanyaan "Adakah tempat bagi Yesus di hatimu?" dilontarkan, begitu sulit aku menjawab iya. 

Hati ini penuh dengan aku.

Masa depanku.
Masa laluku.
Pekerjaanku.
Pelayananku.
Kecemasanku.
Kesibukanku.
Relasiku.
Kebahagiaanku.
Kesedihanku.
Kepuasanku.
Dan aku aku yang lain.

Hati seperti ini, apakah benar ada tempat bagi-Nya?

Maka aku bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan untuk 'ku kembali mengoreksi hatiku. Membuang sampah kotor yang tidak berguna itu.

Betapa aku berharap, untuk tidak lagi gagal fokus. 
Tidak fokus pada kefanaan dunia ini, tetapi pada kekekalan itu.
Tidak terus-menerus mencari hal yang memuliakan diri yang begitu bobrok ini,
tetapi Kristus yang mulia itu yang boleh terpancar di dalam pribadi yang telah Ia menangkan dan selamatkan.

Hidup tidak untuk aku, tetapi Hidup untuk Kristus.


#SebuahPerenunganAgarPribadiIniTetapFokus

Sunday, June 29, 2014

Sebuah Perenungan Dari Mazmur 136

Psalm 136:26 ESV
Give thanks to the God of heaven, for his steadfast love endures forever.



Kemarin, 28 Juni 2014, berkesempatan untuk menyaksikan salah satu keajaiban yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Setelah beberapa tahun, saya berkesempatan untuk melihat matahari terbenam di pantai, dengan cuaca yang sangat indah. Teman saya sempat mengabadikan kejadian tersebut melalui foto, namun bagi saya, tetap saja... peristiwa yang dilihat dengan kedua mata yang Tuhan anugerahkan ini, lebih ter-capture dengan sempurna.

Awan altokumulus, awan stratokumulus, dan awan stratus yang ter-capture oleh mata ini, berkumpul dengan efek cahaya sang surya yang menyilaukan dan yang megah itu. Mata ini pun sanggup untuk tidak berkedip selama kejadian megah ini berlangsung. Dan mulut ini pun berkata : "Tidak ada lampu sorot yang bisa menyerupai efek lampu sorot sang surya ini".

Peristiwa matahari terbenam ini tentu saja mengingatkan saya pada hymn "How Great Thou Art". Betapa ajaibnya Sang Pencipta...

Hari ini ketika membaca dan merenungkan Mazmur 136 ini, aku pun kembali ingat peristiwa kemarin. Masih adakah alasan untuk tidak bersyukur?

Give thanks with a grateful heart to the Lord....... For His steadfast love endures forever...

Ada 1 hal yang menggugah hati ketika bersyukur...

Ada berapa banyak kenalan (yang pada akhirnya mengarah ke "channel") yang saya punya? Apakah banyak? Atau sedikit?

Ada 1 anugerah yang begitu besar... 
Bahwa saya punya 1 kenalan yang begitu berkuasa... Dialah yang menciptakan salah 1 peristiwa menakjubkan yang baru saya saksikan kemarin...

Dialah Pencipta alam semesta (ay 4-9), yang menyertai sepanjang sejarah manusia (ay 10-22), yang senantiasa memperhatikan (ay 23-25), The God of gods, The Lord of lords (ay 2-3), dan di ayat terakhir : The God of heaven.

So... di akhir perenungan...

Bangga ga sih punya KENALAN kayak gini? ;)

Thursday, January 23, 2014

Rest In Peace

Tanggal 19 Januari 2014 yang lalu, papa dipanggil Tuhan sekitar jam 5 pagi. Itu adalah hari Minggu. Beberapa hari sebelum kepergiannya, memang beliau sakit, namun tidak terlalu berat. Memang selama kurang lebih 10 tahun ini beliau stroke karna diabetnya. Karna itu, ketika tekanan darah atau diabetnya lebih tinggi dari yang biasanya, kakinya akan kurang kuat untuk berjalan.

Beberapa hari sebelum kepergiannya, dia mengeluhkan hal yang sama, kaki yang kurang kuat untuk berjalan. Tetapi di Sabtu malam dia mengatakan rasanya mau pingsan. Ini adalah hal yang tidak pernah ia katakan. Saat itu aku tidak sedang di rumah, mama yang sedang di rumah pun kemudian mencoba memijat dll dan papa bilang dah baikan. Tidak berapa lama setelah aku pulang ke rumah, papa muntah. Setelah muntah, ia berkata kondisi tubuhnya baikan, maka aku dan mama pun merasa agak lega karna berpikir mungkin papa panas dalam saja, karena 2 hari sebelumnya ketika diberikan obat panas dalam kondisi tubuhnya ada baikan. Setelah itu, kami tidur.

Diceritakan oleh mama, bahwa ketika jam 2 pagi, papa berkata sudah jam 2 (sambil melihat HP), tidak bisa tidur, tangan terasa dingin. Maka mama dengan terkantuk-kantuk memijat tangan papa. Dan ketika jam 5 pagi, mama terbangun karena suara "ngorok" dari papa yang berbeda dengan ngorok biasanya. Ketika terbangun, mama langsung melihat wajah papa yang sudah tidak seperti biasa, dan kemudian memanggilku bangun. Aku terbangun dengan terkejut, berlari ke kamar mama dan membantu mama sebisa mungkin untuk melakukan sesuatu pada papa dan menelepon pak Pendeta untuk datang segera.

Sekitar 20 menit kemudian, Pak Pendeta dan seorang rekan gereja sampai di rumah dan langsung mencoba nadi papa. Pak Pendeta berkata nadinya sudah berhenti, namun aku memaksa dengan berkata masih ada nadinya, tolong bantu bawa ke Rumah Sakit. Akhirnya setelah sekitar 5 menit papa dibawa ke Rumah Sakit. Di Rumah Sakit dilakukan ini dan itu disaksikan oleh mama sementara aku harus ke bagian pendaftaran untuk mengerjakan proses pendaftarannya. Setelah dilakukan ini dan itu, pak Pendeta bertanya kepada dokter : Dok, sebenarnya jantungnya masih berdetak tidak? Dokter pun kemudian mengambil alat yang sering kulihat di film-film. Alat yang mendeteksi apakah jantung masih berdetak. Ternyata ketika dipasangkan maka garis lurus yang biasanya kulihat di film-film itu muncul. Maka, dokter menyatakan, papa sudah tiada.

Demikianlah kejadian yang men-shock-kan ini. Papa dipanggil Tuhan di dalam tidurnya.

Dalam beberapa hari masa berduka ini, sulit sekali untuk menerima bahwa papa sudah tiada. Berkali-kali aku berdoa, "Tuhan, bangkitkanlah papa." karena papa sebelumnya sempat berdoa, "Tuhan tolong jangan ambil aku dulu, aku masih mau bertemu Wendy, adikku (yang akan pulang dalam jangka waktu 1 minggu lagi untuk bersama-sama merayakan Imlek)."  Namun waktu Tuhan bukanlah waktuku. Ia yang memegang kendali segala sesuatu.

Di hari ke-4, aku membuka-buka kembali blog dari salah satu hamba Tuhan, yaitu Ko Jeffrey, dan berkesempatan untuk membaca postingannya dengan judul : 2014.
Ketika aku membaca postingan tersebut, aku menyadari bahwa ini juga adalah salah satu tonggak di dalam hidupku dan keluargaku. Sebuah bab yang juga harus kulewati, karena masih ada bab berikutnya yang harus kulewati bersama Tuhan. Masa depan terasa berat. Kesepian adalah satu hal yang kutakutkan terjadi pada mamaku. Namun, Tuhan ingatkan untuk tidak khawatir akan yang belum terjadi. Tetap berpegang pada Tuhan.

Hari ini adalah hari ke-5 masa berdukaku. Besok papa baru akan dikuburkan karena menunggu kedatangan semua anggota keluargaku. Saat menulis postingan ini aku sedang menunggu kedatangan adikku.

Aku tidak tahu hari esok akan seperti apa. Namun yang aku tahu :
"Trust and Obey! For there's no other way to be happy in Jesus, but to trust and obey."