Sunday, June 29, 2014

Sebuah Perenungan Dari Mazmur 136

Psalm 136:26 ESV
Give thanks to the God of heaven, for his steadfast love endures forever.



Kemarin, 28 Juni 2014, berkesempatan untuk menyaksikan salah satu keajaiban yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Setelah beberapa tahun, saya berkesempatan untuk melihat matahari terbenam di pantai, dengan cuaca yang sangat indah. Teman saya sempat mengabadikan kejadian tersebut melalui foto, namun bagi saya, tetap saja... peristiwa yang dilihat dengan kedua mata yang Tuhan anugerahkan ini, lebih ter-capture dengan sempurna.

Awan altokumulus, awan stratokumulus, dan awan stratus yang ter-capture oleh mata ini, berkumpul dengan efek cahaya sang surya yang menyilaukan dan yang megah itu. Mata ini pun sanggup untuk tidak berkedip selama kejadian megah ini berlangsung. Dan mulut ini pun berkata : "Tidak ada lampu sorot yang bisa menyerupai efek lampu sorot sang surya ini".

Peristiwa matahari terbenam ini tentu saja mengingatkan saya pada hymn "How Great Thou Art". Betapa ajaibnya Sang Pencipta...

Hari ini ketika membaca dan merenungkan Mazmur 136 ini, aku pun kembali ingat peristiwa kemarin. Masih adakah alasan untuk tidak bersyukur?

Give thanks with a grateful heart to the Lord....... For His steadfast love endures forever...

Ada 1 hal yang menggugah hati ketika bersyukur...

Ada berapa banyak kenalan (yang pada akhirnya mengarah ke "channel") yang saya punya? Apakah banyak? Atau sedikit?

Ada 1 anugerah yang begitu besar... 
Bahwa saya punya 1 kenalan yang begitu berkuasa... Dialah yang menciptakan salah 1 peristiwa menakjubkan yang baru saya saksikan kemarin...

Dialah Pencipta alam semesta (ay 4-9), yang menyertai sepanjang sejarah manusia (ay 10-22), yang senantiasa memperhatikan (ay 23-25), The God of gods, The Lord of lords (ay 2-3), dan di ayat terakhir : The God of heaven.

So... di akhir perenungan...

Bangga ga sih punya KENALAN kayak gini? ;)

Thursday, January 23, 2014

Rest In Peace

Tanggal 19 Januari 2014 yang lalu, papa dipanggil Tuhan sekitar jam 5 pagi. Itu adalah hari Minggu. Beberapa hari sebelum kepergiannya, memang beliau sakit, namun tidak terlalu berat. Memang selama kurang lebih 10 tahun ini beliau stroke karna diabetnya. Karna itu, ketika tekanan darah atau diabetnya lebih tinggi dari yang biasanya, kakinya akan kurang kuat untuk berjalan.

Beberapa hari sebelum kepergiannya, dia mengeluhkan hal yang sama, kaki yang kurang kuat untuk berjalan. Tetapi di Sabtu malam dia mengatakan rasanya mau pingsan. Ini adalah hal yang tidak pernah ia katakan. Saat itu aku tidak sedang di rumah, mama yang sedang di rumah pun kemudian mencoba memijat dll dan papa bilang dah baikan. Tidak berapa lama setelah aku pulang ke rumah, papa muntah. Setelah muntah, ia berkata kondisi tubuhnya baikan, maka aku dan mama pun merasa agak lega karna berpikir mungkin papa panas dalam saja, karena 2 hari sebelumnya ketika diberikan obat panas dalam kondisi tubuhnya ada baikan. Setelah itu, kami tidur.

Diceritakan oleh mama, bahwa ketika jam 2 pagi, papa berkata sudah jam 2 (sambil melihat HP), tidak bisa tidur, tangan terasa dingin. Maka mama dengan terkantuk-kantuk memijat tangan papa. Dan ketika jam 5 pagi, mama terbangun karena suara "ngorok" dari papa yang berbeda dengan ngorok biasanya. Ketika terbangun, mama langsung melihat wajah papa yang sudah tidak seperti biasa, dan kemudian memanggilku bangun. Aku terbangun dengan terkejut, berlari ke kamar mama dan membantu mama sebisa mungkin untuk melakukan sesuatu pada papa dan menelepon pak Pendeta untuk datang segera.

Sekitar 20 menit kemudian, Pak Pendeta dan seorang rekan gereja sampai di rumah dan langsung mencoba nadi papa. Pak Pendeta berkata nadinya sudah berhenti, namun aku memaksa dengan berkata masih ada nadinya, tolong bantu bawa ke Rumah Sakit. Akhirnya setelah sekitar 5 menit papa dibawa ke Rumah Sakit. Di Rumah Sakit dilakukan ini dan itu disaksikan oleh mama sementara aku harus ke bagian pendaftaran untuk mengerjakan proses pendaftarannya. Setelah dilakukan ini dan itu, pak Pendeta bertanya kepada dokter : Dok, sebenarnya jantungnya masih berdetak tidak? Dokter pun kemudian mengambil alat yang sering kulihat di film-film. Alat yang mendeteksi apakah jantung masih berdetak. Ternyata ketika dipasangkan maka garis lurus yang biasanya kulihat di film-film itu muncul. Maka, dokter menyatakan, papa sudah tiada.

Demikianlah kejadian yang men-shock-kan ini. Papa dipanggil Tuhan di dalam tidurnya.

Dalam beberapa hari masa berduka ini, sulit sekali untuk menerima bahwa papa sudah tiada. Berkali-kali aku berdoa, "Tuhan, bangkitkanlah papa." karena papa sebelumnya sempat berdoa, "Tuhan tolong jangan ambil aku dulu, aku masih mau bertemu Wendy, adikku (yang akan pulang dalam jangka waktu 1 minggu lagi untuk bersama-sama merayakan Imlek)."  Namun waktu Tuhan bukanlah waktuku. Ia yang memegang kendali segala sesuatu.

Di hari ke-4, aku membuka-buka kembali blog dari salah satu hamba Tuhan, yaitu Ko Jeffrey, dan berkesempatan untuk membaca postingannya dengan judul : 2014.
Ketika aku membaca postingan tersebut, aku menyadari bahwa ini juga adalah salah satu tonggak di dalam hidupku dan keluargaku. Sebuah bab yang juga harus kulewati, karena masih ada bab berikutnya yang harus kulewati bersama Tuhan. Masa depan terasa berat. Kesepian adalah satu hal yang kutakutkan terjadi pada mamaku. Namun, Tuhan ingatkan untuk tidak khawatir akan yang belum terjadi. Tetap berpegang pada Tuhan.

Hari ini adalah hari ke-5 masa berdukaku. Besok papa baru akan dikuburkan karena menunggu kedatangan semua anggota keluargaku. Saat menulis postingan ini aku sedang menunggu kedatangan adikku.

Aku tidak tahu hari esok akan seperti apa. Namun yang aku tahu :
"Trust and Obey! For there's no other way to be happy in Jesus, but to trust and obey."

Thursday, February 7, 2013

Kau Tak Kulupakan

Sumber : http://www.hymntime.com
Di masa-masa akhir tahun 2012 yang lalu, ada sebuah lagu yang dinyanyikan di ibadah minggu di gerejaku. Judul lagunya sama seperti judul postinganku kali ini : "Kau Tak Kulupakan" (judul asli : "I Will Not Forget Thee"). 
Penulisnya adalah Charles Hutchinson Gabriel. 




Tuhan Berjanji, "Kau Tak Kulupakan."
Siapakah Gerangan, Yang Menggoncangkanku?
Walau Di Lembah Yang Gelap Gulita,
Akan Dicerahkan, Oleh Kasih-Nya.Kau Takkan Kulupakan,
'Ku 'Kan Memimpinmu, 'Ku 'Kan Menuntunmu,
Kau Takkan Kulupakan,
'Ku 'Kan Menolongmu, Dan Menghiburmu.
Ketika menjalani hari demi hari dengan kesibukan-kesibukan yang ada, ada kalanya hidup terasa sangat melelahkan.
Tekanan-tekanan di "jungle" ini kadang membuatku merasa tercekik.
Kegagalan-kegagalan dalam hidup bersama Tuhan membuatku semakin "speechless".

Malu untuk memandangNya...

Namun di saat itu,  lagu ini dikumandangkan...

Aku bisa gagal, aku bisa merasa tercekik, aku bisa merasa lelah.
Namun ada satu Pribadi yang berjanji bahwa Dia tidak akan melupakanku.
Bahkan janji-Nya tidak akan pernah tidak ditepati.
Dia akan memimpin, menuntun, menolong, menghiburku.

Walau aku tidak pantas untuk menerima janji yang begitu indah itu,
Dia tetap akan selalu melakukan janji-Nya.

Adakah Pribadi yang lebih indah dari Allah?

Tidak ada kata yang bisa mengungkapkan betapa menakjubkannya Pribadi ini.

Dunia menawarkan tekanan-tekanan dalam hidup.
Tetapi Allah yang adalah Pencipta dunia ini, menawarkan pimpinan untuk mengalahkan tekanan dari dunia ini.

Aku bersyukur untuk janji Allah yang kembali membuatku "speechless"...

God is so Wonderful!

Friday, February 24, 2012

22nd

Huph.... Makin tua saja..

Itu yang jadi pemikiran pertama kemaren sebelum tidur.

Tapi untunglah aku tidak memulai hari ini dengan ketakutan pada umur yang bertambah. :p

Pagi ini ketika merenung sejenak setelah bangun tidur, kembali speechless karena kesetiaan Tuhan yang telah menjagaku hingga saat ini. Lagu Besar SetiaMu kemudian kupanjatkan karena rasa syukurku.

Tuhanku sungguh benar-benar setia...

Hari ini Tuhan memberi banyak kado.

Diberikan surprise oleh anak-anak didik, tidak ada dalam pikiranku sebelumnya. Cukup tersentuh dengan care dari anak-anak ini. Dan sungguh bersyukur Tuhan kasi aku kesempatan mengenal setiap mereka.

Teman-teman gereja juga tidak ketinggalan dalam memberikan surprise. Dan setiap surprise yang mereka adakan membuatku kembali menikmati yang namanya bersukacita bersama-sama.
Terlebih lagi Tuhan menjawab doaku dengan kado yang diberikan oleh mereka.

It's surprise because I've never thought of that.

Tuhan tidak hanya memberikan hal materi, tetapi hari ini begitu banyak yang Ia tunjukkan dan kembali aku speechless. Kali ini speechless karena sadar betapa banyak hal di hidupku yang masih sangat jauh dengan serupa Kristus...

May God help me to be like Jesus.. more and more like Jesus...
Amen.

Thursday, December 8, 2011

Umur manusia siapakah yang tahu...?

Umur manusia siapakah yang tahu...?

Dia adalah seorang anak yang begitu imut, begitu manisnya hingga saya yakin setiap yang melihatnya pasti akan tersenyum.
Dia seorang yang sangat kami sayangi...
Dia seorang yang taat, sangat baik, sangat ceria, dan ia seorang anak yang begitu tulus..

Masih teringat di benakku akan keramahannya menyapa gurunya di pagi hari, sering kali ketika jumlah murid yang datang belum mencapai 10 orang.

Rumahnya tidak dekat. Cukup jauh. Tetapi ia begitu rajin.

Memang nilainya tidak tinggi sekali, tetapi tidak juga rendah sekali, namun sikapnya merupakan satu penghiburan besar bagi guru-guru.

Dikatakan orang-orang, karena kelalaian orang tua, maka anak ini terlalaikan dan terlambat untuk diselamatkan.

Jikalau saya memposisikan diri sebagai orang tua dari anak itu, maka ntahlah bagaimana perasaan saya saat ini. Saya orang tua yang dikenal sibuk bekerja  di toko, sehingga sekarang saya harus kehilangan anak sulung saya karena kesibukan dan kelalaian saya.

Tidakkah lebih baik aku, orang lain ini, yang tidak bisa memperkirakan betapa besar penyesalan dari orang tua tersebut, untuk ikut berduka bersama mereka, daripada aku ikut mempersalahkan mereka..

Semakin mempersalahkan mereka, rasanya makin sakit hati ini...

Begitu dalam dan sakit ternyata rasa keterhilangan itu. Kukira aku sudah tahu bagaimana rasa kehilangan, namun ternyata aku harus terkejut dengan kesakitan yang makin dalam ketika pengalaman kehilangan harus kembali terjadi.

Rasa kehilangan ini tentu bisa terhapuskan jikalau aku tahu dengan pasti bahwa ia telah mengenal Allah yang kupercaya.. Namun.. aku tidak tahu dengan pasti hal itu.
Dia tidak pernah ke Gereja, tapi yang aku tahu dia telah bersekolah di sekolah kristen ini dari TK hingga kelas 5.. hampir 7 tahun...

Aku hanya bisa berharap bahwa ia telah mengenal Kristus.

Manusia begitu sementara. Tidak ada yang tahu kapan tiba waktunya untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

Karena itu giatlah! Janganlah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabarkan kabar sukacita yang telah engkau terima!